Pemilihan Ketua RT, Demokrasi rakyat bawah

Maret 23rd, 2010 by sutrisno1212

Saat ini bangsa Indonesia sudah merasakan alam demokrasi yang selama ini dicita-citakan. Walaupun masih dalam taraf belajar dan belajar, namun cukup banyak hal yang dapat kita ambil hikmah dan manfaatnya. Dengan adanya dinamika demokrasi ini, peluang memilih pimpinan makin terbuka, dengan pilihan yang beragam dan makin berkualitas.

Tetapi selama dalam masa belajar ini, kita sering menjumpai adanya praktik-praktik demokrasi yang kotor, culas, licik dan saling menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan. Dalam usahanya, para jago-jago itu dengan modal yang sangat besar dan disokong oleh para pendukungnya melakukan tindakan yang melawan nilai-nilai demokrasi. Praktik politik uang, sogok-menyogok untuk membeli suara, kampanye hitam dengan memfitnah lawan politiknya, intimidasi, dan memberikan janji-janji manis kepada para pemilih. Yang semua itu hanyalah bumbu dan taktik kotor dari si jago dan para antek-anteknya.

Rukun Tetangga (RT) yang merupakan struktur pemerintahan yang terkecil di negara ini, menjadi ujung tombak bagi kepentingan masyarakat. Hampir semua keperluan warga yang berkaitan dengan kepemerintahan selalu memerlukan surat pengantar dari Ketua RT. Jika ada permasalahan antar warga selalu Ketua RT yang menjadi tempat mengadu. Meskipun demikian jasa-jasa Ketua RT belum mendapatkan apresiasi yang memadai, baik dari pemerintah di atasnya maupun dari masyarakat itu sendiri. Ketua RT selalu dijadikan obyek penderita, jika ada ketidakpuasan mereka protesnya kepada Ketua RT.

Dalam upaya melakukan pembelajaran berdemokrasi, warga RT 01 Kenaran Sumberharjo Prambanan Sleman Yogyakarta pada tanggal 17 januari 2010 melaksanakan pemilihan Ketua RT. Pemilihan Ketua RT dilaksanakan oleh suatu panitia yang dibentuk oleh warga sendiri, dengan cara-cara seperti pelaksanaan Pemilihan Umum. Dalam pemilihan calon yang dipilih berjumlah 5 orang. Dari kelima calon Ketua RT semuanya dicalonkan oleh warga, dan tidak ada yang mencalonkan diri.

Dalam pelaksanaannya dari 103 jumlah pemilih sebanyak 97 orang (hampir 100%) menggunakan haknya. Sedangkan hasil yang diperoleh adalah calon no 1 memperoleh 39 suara, calon no 5 memperoleh 28 suara sedang calon no 2, 3 dan 4 masing-masing mendapatkan 10 suara (perolehan suara ini juga tanpa rekayasa).

Dari pengalaman penulis ini, dapat kita ambil hikmahnya, bahwa ternyata masyarakat kecil dapat melaksanakan demokrasi yang sebenarnya. Karena jabatan ketua RT yang memang tidak menjanjikan penghasilan, banyak warga yang tidak tertarik untuk menjadi Ketua RT, bahkan untuk diajukan menjadi calon harus dengan sedikit paksaan. Dalam proses pemilihan tidak ada praktik kotor dalam memenangkan jagonya. Kalau ada saling mempengaruhi lebih pada kepentingan warga, sejauh mana calon yang akan didukungnya dapat memberikan kontribusi yang lebih bagi warga masyarakat, latar belakang yang baik serta mempunyai konsep dan program yang dapat diterima warga.

Saya memimpikan seandainya pemilihan legislatif maupun pemimpin daeintimidasi, rah dapat berjalan seperti pemilihan Ketua RT di atas, mungkin yang namanya money politic akan hilang dengan sendirinya. Tidak ada yang namanya serangan fajar, janji-janji palsu, dan lain sebagainya, semuanya digerakkan oleh adanya kepentingan bagi masyarakat, bangsa dan negara. Kepentingan calon yang didukungnya adalah kepentingan masyarakat itu sendiri. Mungkinkah???

Agar Anak Tidak Ngompol

Agustus 26th, 2009 by sutrisno1212

Kita sering dibuat jengkel dengan anak yang masih ngompol. Kadang kita jumpai anak kelas 5 SD masih sering ngompol. Selain hal ini sangat menjengkelkan karena kita harus sering-sering menjemur kasur, juga sangat memalukan. Sebenarnya apa sih yang menyebabkan anak kita ngompol ? Sepengetahuan saya ngompol disebabkan oleh karena si anak malas atau memang terbiasa pipis sembarangan. Kalau merasa akan pipis ya pipis aja serrrr…. Selain itu adanya ngompol juga dapat dipicu oleh adanya stress pada anak. Menurut cerita teman saya, anaknya yang sudah kelas 5 SD jika besok hari masuk sekolah, malamnya pasti ngompol. Anehnya jika besok hari libur dia tidak ngompol. Memang dia kesulitan di dalam belajarnya. Dari hal ini saya mengambil kesimpulan bahwa si anak tersebut stress menghadapi pelajaran di sekolahnya, yang dirasakannya susah untuk dipahami.

Dari pengalaman isteri saya, sebenarnya kita bisa mengajarkan anak kita agar tidak ngompol. Tergantung kita rajin atau tidak dalam mengajarkannya. Anak saya yang pertama mulai tidak ngompol sejak usia 10 bulan. Caranya adalah :

a. Kita harus jeli mengamati tanda-tanda si anak kalau mau pipis. Biasanya bayi akan gelisah dan rewel kalau hendak pipis. Nah pada saat itu kita harus segera membuka popok/celananya agar tidak pipis di popok/celana (istilah jawa ditatur). Kalau hal ini kita biasakan, si anak tidak dapat pipis kalau masih mengenakan popok/celana, kecuali sudah tidak dapat menahannya.

b. Kalau tidak dalam keadaan terpaksa, jangan dibiasakan memakai pampers. Karena kalau kita pakaikan pampers, si anak akan dengan enaknya pipis setiap saat dan ini akan menjadi kebiasaan. Nah mungkin dikiranya hal itu asik-asik aja, kebiasaan ini akan terbawa sampai besar. Jadilah anak kita sering ngompol.

Intinya adalah bahwa si baby dibiasakan risih dan tidak bisa pipis bila masih mengenakan celana/popok, sehingga dia hanya bisa pipis bila sudah bebassss … tidak ada penghalangnya.

Inilah sedikit tips dari saya, yang saya ambil dari pengalaman saya pada anak pertama. Sekarang ini saya sedang menimang anak saya yang kedua, lagi banyak-banyaknya ngompol nih, mudah-mudahan tidak ngompolan seperti kakaknya.

Mengapa kotaku banyak pengemis ?

Agustus 21st, 2009 by sutrisno1212

Akhir-akhir ini di banyak kota makin sering kita menyaksikan para gelandangan yang berkeliaran di sekitar kota. Khususnya di kota-kota besar, di sekitar lampu merah dan perempatan banyak kita jumpai para pengamen jalanan yang mendekati para pejalan yang sedang berhenti. Mereka memainkan ecrek-ecreknya tanpa mengeluarkan suara nyanyian seperti layaknya orang mengamen. Ya karena mereka masih terlalu kecil untuk mengetahui barang sebuah lagupun, mereka masih anak-anak yang seharusnya tetap di rumah bermain, tapi mengapa mereka ada di jalanan ? Kalau kita perhatikan di sekitar mereka ada orang dewasa yang mengawasinya, kita tidak tahu apakah mereka itu orang tuanya atau kerabatnya. Dari manakah mereka, apakah mereka dari sekitar tempat itu ? Kebanyakan mereka memang bukan dari daerah sekitar, kadang mereka didatangkan dari kota lain yang sedang diadakan operasi gepeng. Sepertinya mereka ada yang mengkoordinir.

Haruskah kita memberinya uang ?

Inilah dilema kita, kita inginnya jalanan kota bersih dari para pengamen, pengemis dan gelandangan. Kita tidak ingin melihat orang-orang di sekitar kita menderita seperti itu. Tapi disisi lain sebagai manusia, kita ingin membantu mengentaskan mereka dari kemiskinan dan lepas dari jalanan. Sehingga adakalanya kita memberi mereka sedikit uang yang ada. Tapi sayangnya mereka yang kita kasihani itu kadang menggunakan uang yang kita berikan untuk hal-hal yang tidak baik. Memang ada beberapa lembaga masyarakat yang menampung mereka dan memberikan bekal pendidikan atau keterampilan. Tapi kalau mereka ditanya lebih senang berada di jalanan. Tidak tahu kenapa ya. Hanya mereka yang tahu jawabannya.

Susahnya anak belajar

Agustus 18th, 2009 by sutrisno1212

Saat ini untuk membuat anak-anak belajar sangat banyak hambatannya. Dibandingkan saat kita dulu masih sekolah, gangguan yang ada pada saat itu relatif masih sedikit. Tinggal masing-masing individu mau belajar atau tidak. Tapi pada saat ini mau menyuruh anak belajar harus berperang dulu dengan anak. Dan anak-anak sekarang banyak sekali alasannya untuk tidak mau belajar. Ngantuk lah, lelah, lapar atau seabrek alasan yang diutarakan oleh anak-anak kita.

Hal ini masih diperparah oleh lingkungan sekitar kita yang mendukung anak ke arah itu. Ya hal ini juga tergantung pada kita sebagai orang tua untuk dapat menyikapinya. Tapi sekali lagi gangguan dari sekitar saat ini masih dominan, terutama pada makluk yang namanya televisi. Dapat dikatakan televisi saat ini bagai pisau bermata dua, di satu sisi sebagai sarana hiburan dan informasi, tapi di lain pihak banyak acara televisi yang rentan mempengaruhi perkembangan anak.

Parahnya lagi acara-acara yang disenangi anak-anak tersebut ditayangkan pada saat jam belajar anak, yaitu setelah petang menjelang sampai malam hari, dimana sinetron anak-anak digelar pada jam-jam tersebut. Pendampingan orang tua memang harus dan wajib dilakukan kalau kita ingin anak kita tidak terkontaminasi dengan adegan-adegan dan cerita-cerita ngawur yang ditampilkan. Disana ditampilkan adegan kekerasan oleh dan kepada anak-anak, jagoan yang saling ejek dengan temannya, cerita-cerita mistik, pemain bola plus-plus (jadi jagoan silat yang sangat digdaya) dan hal-hal yang yang tidak masuk di akal. Dan jangan heran kalau anak-anak kita akan mendapatkan kosa kata yang tidak kita ajarkan, karena mereka mendapatkan kata-kata tersebut dari tayangan tersebut.

Maka pendampingan dari orang tua sekali lagi harus kita lakukan. Kalau masih memungkinkan matika televisi adalah jalan yang bijak. Dan kepada pihak stasiun televisi kami mohon dukungannya untuk tidak menyiarkan acara-acara sinetron anak pada saat jam belajar. Pada jam-jam tersebut hendaknya disiarkan acara berita atau acara pendidikan. Jangan acara pendidikan ditayangkan pada pagi hari, anak-anak kan pada sekolah. Maju Indonesia !!

Kearifan Lokal Pilar Kemandirian bangsa

Agustus 7th, 2009 by sutrisno1212

Berbagai peristiwa yang telah menimpa bangsa ini telah menimbulkan banyak sekali perubahan dan pergeseran nilai.  Peristiwa gempa bumi Jogja tahun 2006, memberikan pukulan yang cukup keras bagi masyarakat yang tertimpa musibah tersebut. Sesaat mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi, apa yang akan dan harus dilakukannya, sepertinya dunia berhenti. Saya yang mengalami langsung kejadian itu merasakan betul bagaimana rasanya kehilangan segala-galanya. Rumah yang bertahun-tahun saya tinggali sekeluarga hancur berkeping-keping, termasuk segala yang saya punya di dalamnya. Ditambah lagi ibu saya yang tidak sempat menyelamatkan diri menjadi korban dalam peristiwa dahsyat tersebut.

Disamping kesedihan mendalam yang dirasakan, saat itu juga muncul lagi semangat gotong royong dalam diri para korban. Mereka saling bantu membersihkan puing-puing bangunan, membuka akses jalan yang tertutup reruntuhan, membersihkan sumber air yang tercemar berbagai kotoran sampai menghimpun dana untuk kepentingan bersama bersama. Bahkan mereka rela menyewa generator untuk penerangan yang pada saat itu aliran listrik dari PLN terputus beberapa minggu.

Kemudian saat proses rekonstruksi dan rehabilitasi pasca gempa berlangsung, semangat gotong royong dan kebersamaan ini kembali dimunculkan. Karena tidak semua korban gempa mendapatkan dana rekonstruksi dan rehabilitasi dari pemerintah, hal ini dapat menimbulkan konflik dan kerawanan sosial. Kecemburuan dan saling curiga antar warga menjadi ancaman yang dapat mengganggu keharmonisan bermasyarakat. Mereka yang tidak mendapatkan dana rekonstruksi protes ke pemerintah, mempertanyakan alasan mengapa mereka tidak mendapatkan haknya, padahal mereka juga menjadi korban gempa. Kalau tidak ada semangat gotong royong yang kuat, niscaya perpecahan di masyarakat akan terjadi. Mulai dari sinilah istilah kearifan lokal muncul dan menjadi semangat masyarakat dan pemerintah daerah untuk menyelesaikan konflik yang timbul. Mereka mengedepankan musyawarah dan kepentingan bersama dalam menyelesaikan persoalan. Mereka rela tidak menerima utuh dana rekonstroksi dari yang seharusnya untuk diserahkan kepada korban lain yang belum mendapatkan dana tersebut. Semuanya berjalan dengan amat indah dan elegan, karena semangat gotong royong yang sekarang lebih dikenal dengan kearifan lokal.

Dengan semangat kearifan lokal pula kita dapat meningkatkan rasa nasionalisme kita. Kearifan lokal disini dapat dibaca sebagai kecintaan kita pada produk-produk lokal atau produk nasional. Kita harus bangga menggunakan produksi nasional, merk-merk Indonesia maupun hasil karya manusia Indonesia. Karena dengan hal tersebut, berarti kita mendukung keberlangsungan perusahaan nasional, mendukung ketersediaan lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat. Kita tidak harus menjadi seorang pejabat untuk mencintai dan bangga pada negeri kita. Dengan menggunakan produk-produk lokal kita menjadikan negara Indonesia dapat mandiri.  Selamat Ulang Tahun ke-64 negeriku.  MAJU INDONESIA !!!

Halo dunia!

Agustus 5th, 2009 by sutrisno1212

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!